Desa Mas Ubud, Sentra Kerajinan Seni di Ubud

Terletak di Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, Desa Mas dikenal sebagai desa dengan citarasa seni yang tinggi. Pasalnya, di desa ini lahir ribuan para pekerja seni, seperti pemahat, pengukir, dan pematung. Syahdan, disepanjang jalan di desa ini berjamur artshop, yang menjual hasil kerajinan seni baik yang berbahan dasar kayu, batu, pasir, tanah, kaca, aluminium, tembaga
ataupun kulit. Tak hanya itu, Anda bisa melihat langsung proses pembuatan patung, dari mulai dipahat, diukir, dipoles, hingga menjadi kaya seni yang bernilai jual tinggi.

Tak hanya kaum laki-laki, kaum hawa di desa inipun sangat ahli membuat kerajinan dari bahan kayu ini. Bak adat yang diwariskan turun temurun, jemari mereka begitu cekatan menciptakan patung hingga ukiran yang cantik nan rumit. Keteguhan dalam mengusung nilai humanisme dan naturalisme sebagai pesan sentral menjadi ciri khas dari hasil kerajinan Desa Mas yang memiliki nilai eksistensi tersendiri.

Sejak dulu, Desa Mas telah tersohor karena berbagai keunggulan yang dimilikinya, semisal seni ukir kayu, arca hingga karya imajinasi abstrak lainnya yang mengandung filosofi. Menilik  sejarahnya, nama Desa Mas adalah pemberian dari Dang Hyang Nirartha, seorang Brahmana dari Majapahit yang memilih pindah ke Pulau Bali setelah Kerajaan Majapahit di Jawa runtuh. Atas undangan seorang Arya Majapahit bernama Mas Wilis, Dang Hyang Nirartha di undang ke sebuah tempat yang kini dinamakan Desa Mas. Mas Wilis sendiri merupakan Arya Majapahit yang dahulunya bertempur menyerang kerajaan Bedaulu di bawah pimpinan Raja Sri Tapalung atau Sri Gajah Waktra yang tersohor karena kelalimannya. Kala itu, Mas Wilis bersama dengan arya-arya lainnya di bawah pimpinan Gajah Mada dan atas perintah Raja Majapahit yang kedua, Sri Kala Gemet atau Sri Jaya Negara menyerang kerajaan Bedaulu. Setelah menaklukan Raja Bedaulu, para arya termasuk Mas Wilis memutuskan untuk bermukim di Pulau Dewata.

Dan atas nama tali persahabatan, Dang Hyang Nirartha menikah dengan putri Mas Wilis yang bernama Ayu Kayuan (Mas Gumitir). Buah perkawinannya dengan Mas Gumitir, Dang Hyang Nirartha menurunkan keturunan Brahmana Mas yang tinggal di Desa Mas hingga sampai saat ini. Selain Desa Mas, Ubud juga memiliki desa-desa cantik dengan hasil kerajinan yang diburu wisatawan. Tak hanya memburu cinderamata, turis-turis asing banyak yang sengaja tinggal di desa-desa seni tersebut untuk mempelajari kerajinan seni tersebut. Ada desa Belega dan Dusun Bona yang terkenal sebagai sentra kerajinan bambu dan buah lontar. Desa Celuk sebagai sentra kerajinan perak, sedangkan desa wisata Kamasan tersohor sebagai desa penghasil karya seni logam
dan lukisan yang indah. (Tri Harningsih)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *