Ihwal Mutiara sebagai ‘Hiasan Surgawi’

Batu mutiara sering disebut sebagai “The Queen Of Stone” karena keindahan bentuk mutiara yang sungguh mempesona dan memiliki keanggunan dan sifat feminim yang dipancarkan melalui pengaruh daya mistik. Batu mutiara telah menjadi perhiasan sejak lama kurang lebih ribuan tahun yang lalu sebelum masehi.

Sebagai batu mulia, mutiara merupakan bagian terpenting dari sejarah perhiasan, karena digunakan sebelum batu permata ditemukan. Tidak ada catatan pasti kapan mutiara pertama kali ditemukan, tetapi sudah disanjung keindahannya sejak dulu kala pada awal tahun masehi.

Di dalam kitab Injil sudah menerangkan kelangkaan dan sedemikian bernilainya ”sebutir mutiara”, sampai-sampai seorang saudagar berkeliling mencari mutiara yang baik – ”segera menjual segala sesuatu yang ia punyai untuk membelinya”. Demikian pula, di dalam Al Qur’an juga dijelaskan mengenai penggambaran surga yang dihiasi oleh mutiara.

Sebagai batu mulia, mutiara dipakai untuk menghiasi mahkota raja Romawi dan saat itu mutiara merupakan simbol kekuasaan, hanya dikenakan Raja maupun permaisuri. Salah satu Ratu yang terkenal mengenakan perhiasan mutiara ialah Ratu Cleopatra, demikian pula Ratu Inggris Elizabeth I dan Ratu Elizabeth II juga mengenakannya dalam agenda penting kerajaan.

Selain di Roma, Karajaan-kerajaan di Persia, China dan India juga menyemarakkan keindahan serta simbol kekuasaan dengan mutiara. Di dalam budaya Hindu mutiara dikaitkan dengan bulan dan simbol cinta. Dan juga diyakini mutiara memiliki kekuatan yang ada hubungannya dengan kehidupan.

Demikian pula di China mutiara dipercaya memiliki kekuatan vital dan untuk mencegah bala – musibah. Banyak cerita tentang mutiara, misalnya, biksu Tibet dikatakan memiliki “mantra mutiara” yang akan menyebabkan setiap wanita terjebak dalam sinarnya menjadi tergila gila dengan mutiara.

Bahkan, di Negeri Tirai Bambu itu, mutiara dipercaya dapat ikut menjaga dan memberi tanda kesehatan yang memakainya. Mutiara yang kehilangan kilaunya akan membuat pemakainya jatuh sakit dan kehilangan kilau sepenuhnya jika pemakainya meninggal.

Di Nusantara, mutiara sudah di kenal sejak zaman Kerajaan Majapahit, sejumlah daerah di tanah Papua yang sudah termasuk wilayah kekuasaan Kerajaan yang dipimpin oleh Raden Wijaya itu, sekitar abad ke XVI, acapkali Raja Tidore memberikan hadiah, antara lain : rempah-rempah, wangi-wangian, bulu burung Cedrawasih, serta mutiara.

Kharisma mutiara masih berkilau. Di dekade 60-70 an, sejumlah selebritas dunia mengenakan perhiasan mutiara, sebut saja Ibu Negara Amerika Jacky Kennedy, artis kondang Holiwood Marlyn Monroe serta Elizabeth Taylor, dalam berbagai posenya saat menghadiri perhelatan akbar, mereka mengenakan perhiasan mutiara.

Hingga memasuki abad 2000, mutiara masih disanjung akan keindahannya. Tapi batu mulia asal kerang itu sudah bisa dibudidayakan – diproduksi dengan tehnologi rekayasa secara masal. Kilaunya sedikit meredup, dan mutiara mulai banyak dikenakan oleh masyarakat umum, baik di DN maupun di mancanegara.

Kilau mutiara akan kembali berpendar bila stake holder mau mensupport perkembangan budidaya mutiara. Untuk menghasilkan mutiara berkwalitas tinggi – dengan aneka inovasi bentuk, warna, serta kilaunya. Dan disokong dengan upaya mempromosikannya, melalui inovasi kerajinan yang berkualitas tinggi yang mengikuti selera zaman. (Adyan Soeseno/SS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *