Dilema Budidaya Mutiara di Nusantara

Mutiara merupakan salah satu komoditas dari sektor kelautan yang bernilai ekonomi tinggi dan memiliki prospek pengembangan usaha di masa datang. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya peminat perhiasan mutiara dan harganya yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Saat ini Indonesia baru memberikan porsi 26 persen dari kebutuhan di pasar dunia, dan angka ini masih dapat untuk ditingkatkan sampai 50 persen.

Usaha untuk memperoleh mutiara saat ini mengalami perkembangan, semula diperoleh dari hasil penyelaman di laut, sekarang sudah dilakukan dalam bentuk budidaya. Hal ini dikarenakan penyediaan kerang mutiara dari hasil tangkapan di laut bebas terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun sehingga tidak dapat memenuhi permintaan yang terus meningkat. Selain itu harganya pun dari waktu ke waktu semakin meningkat karena besarnya permintaan mutiara, baik dari domestik maupun dari manca negara. Mutiara menjadi barang mewah dan lebih disukai daripada emas, terutama di beberapa negara, seperti Jepang, Korea dan MEE.

Untuk mengatasi hal itu, upaya untuk menghasilkan mutiara pada saat ini sudah dilakukan secara terintegrasi oleh perusahaan besar – yang menggunakan tenaga asing ataupun Balai Budidaya Laut sejak dekade 1990 an. Pembudidayaan dapat dilakukan bersamaan dalam jumlah yang besar.

Mutiara yang dibudidayakan di Indonesia, terutama di Nusa Tenggara Barat (NTB), Lampung, Irian Jaya / Papua, Sulawesi, dan Halmahera merupakan jenis kerang Pinctada Maxima atau di pasar internasional dikenal dengan Mutiara Laut Selatan (MLS) atau south sea pearl. Di Nusa Tenggara Barat, budidaya mutiara terdapat di perairan laut Sumbawa yang memiliki arus tenang. Jenis kerang ini konon hanya terdapat di perairan laut Indonesia dan Australia.

Tehnik Budidaya Mutiara
Usaha budidaya mutiara, yang terpenting adalah ketepatan dalam pemilihan lokasi. Lokasi budidaya kerang mutiara hendaknya berada di perairan atau pantai yang memiliki arus tenang dan terlindung dari pengaruh angin musim. Selain itu, kualitas air disekitar budidaya kerang mutiara harus terbebas dari polusi / pencemaran, karena dapat mengakibatkan kegagalan usaha.

Lokasi yang sesuai adalah berupa teluk dan pulau-pulau kecil yang tenang, yang jauh dari perumahan penduduk. Di dasar perairan memiliki karang atau berpasir merupakan lokasi yang baik untuk melakukan budidaya kerang. Kondisi suhu yang baik untuk kerang tempat tumbuh kembang mutiara, berkisar antara 25 – 30℃ dan suhu air berkisar antara 27 – 31℃.

Perubahan kondisi suhu yang drastis dapat mengakibatkan kematian spat karena suhu air menentukan pola metabolisme. Areal keramba untuk menanam kerang mutiara sebaiknya di letakan sekitar 100-200 meter dari pesisir pantai. Di bawah pelampung-pelampung itulah kerang jenis jenis Pinctada maxima diikat dalam jaring-jaring khusus.

Setelah 40 hari dirawat di bak-bak khusus dalam laboratorium, kerang-kerang penghasil mutiara itu memang harus “ditanam” di laut lepas. Biasanya di kedalaman 5 meter atau 10 meter (jika laut sedang kotor). Di situlah kerang-kerang tersebut dibiarkan hidup dan tumbuh dengan makanan plankton-plankton yang ada.

Setelah umur kerang mencapai 2 tahun, peternak biasanya melakukan proses operasi yaitu proses injeksi nukleus ke dalam organ seksual kerang. Tujuannya, nukleus (bibit mutiara) bisa diselimuti selubung-selubung alamiah dari kerang. Karena itu, pembudidayaan kerang secara alami mulai dari fase pembenihan sampai bisa dipanen pertamakali memakan waktu 3-4 tahun atau lebih. Setiap kerang bisa berisi 2 mutiara. Panen selanjutnya bisa dilakukan 2 tahun sekali –hingga 3 kali panen. Dan, besarnya kerang yang siap panen pun bervariasi – rata-rata berdiameter 15-20 cm.

Mutiara hasil budidaya yang baik harganya cukup tinggi. Mutiara berdiameter 18 milimeter (1,8 cm), misalnya, dibanderol Rp 24 juta per biji. Untuk ukuran 16 milimeter dihargai Rp 18 juta, sedangkan yang 14 milimeter berharga Rp 10 juta. Tapi, yang paling dahsyat adalah mutiara jenis baroque yang dibanderol Rp 59 juta dengan ukuran 16 milimeter. Baroque termasuk jenis mutiara langka karena bentuknya yang tidak bulat sempurna.

Selain dari Indonesia, budidaya mutiara yang berkualitas baik di pasaran internasional juga datang dari Sri Lanka, Australia, Jepang, Mexico, Panama, Venezuela dan Tahiti. Khusus mutiara yang dibudidayakan di perairan tawar didapatkan dari sungai Missisippi, Skotlandia dan China.

Agar usaha budidaya mutiara, dapat berkembang dengan baik selain menggunakan tehnik budidaya yang baik juga perlu jaminan keamanan dari pencurian / perampokan kerang-kerang mutiara yang siap panen di lokasi pemasangan keramba-keramba. Banyak investor asing – yang pindah ke Negara lain, salah satu alasan utamanya karena kerapkali terjadi praktik penjarahan.

Padahal, berapapun mutiara yang dihasilkan dari budidaya, akan selalu laku dijual di pasar lokal dan pasar internasioonal, asalkan kualitas mutiara yang dihasilkan sesuai dengan yang diminta pasar. Bahkan sebelum panen dilakukan, pembeli besar sudah memesan dan menunggu hasil panen mutiara tersebut.Tentunya, untuk mengembalikan kepercayaan investor, harus ada support pemerintah di dalam memberikan jaminan keamanan, seperti halnya penegakan hukum terhadap pencuri ikan. (Adyan Soeseno/SS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *