Cangkang Telur nan Cantik dan Menguntungkan

Limbah cangkang telur sering dijumpai pada kehidupan sehari-hari, seperti di sampah dapur rumah tangga. Bila melihat sampah kulit telur, pasti menganggap remeh sebagai limbah yang tidak bernilai. Namun, tidak demikian dimata perajin yang kreatif dan terampil, cangkang telur bisa diubah menjadi produk kerajinan tangan yang bernilai.

Seperti halnya Dwiyono, perajin mantan karyawan konsultan interior di sebuah perusahaan kontraktor. Saat terjadi krisis monoter tahun 1997, telah mengubah jalan hidupnya menjadi seorang perajin Cangkang telur. Suami dari Eriyanti ini pada awalnya hanya menganggap mengolah kerajinan dari kulit telur itu sebagai penyaluran hobi.

Berkali-kali Dwiyono menguji coba sejumlah bahan dan cara untuk bisa mendapatkan hasil karya yang fantastis. Ia pun mencoba aneka jenis lem, aneka cangkang telur, mulai dari telur ayam, puyuh dan bebek pun turut dipakai dalam percobaannya. Setelah melakukan berbagai cara hingga kurang lebih 3 tahun lamanya, Dwiyono akhirnya menemukan keramik sebagai media yang paling sesuai untuk hasil kreasinya.

Akhirnya, kerja keras selama 3 tahun itu pun terbayarkan. Dwiyono mengolah kerajinan seni dari serpihan kulit telur yang sebelumnya boleh dibilang langka itu menjadi penghias vas, piring, lampu, kursi, meja, dan lukisan. Benda-benda cantik ini tentunya bisa memperindah interior ruangan.

Lelaki kelahiran Magetan, Jawa Timur ini menjelaskan mekanisme pembuatan kerajinan cangkang telur alias art of egg shell. Ia menerangkan, kulit telur hanya bahan dasar saja tapi yang terpenting adalah teknik penempelan di medianya yang bisa berupa kaca, tanah liat, keramik, kayu triplex, dan kavas lukisan. Tantangan terbesar dalam proses pengerjaan seni ini menurut Dwiyono adalah media lukisan karena rumit dan butuh ketelitian tingkat tinggi.

Buah keseriusannya, menuai hasil sepadan. Dwiyono mengikuti pameran untuk pertama kalinya dalam ajang pameran yang digelar di Pasar Festival, Jakarta Selatan, tahun 1998. Beranjak dari pameran di Pasar Festival, Dwiyono mulai menerima order dari Selandia Baru, Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa.

Dwiyono memang patut berbangga. Hobi sekaligus jerih payahnya diakui pasar internasional sebagai kreasi ramah lingkungan yang unik. Kreasi telur Dwiyono sudah meperoleh hak paten dari Departemen Hukum dan HAM dan Dwiyono pun diakui Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Pelopor Seni Lukis dari Kulit Telur Pertama di Indonesia pada tahun 2005. (Adyan Soeseno)

 

Inacraftmagz/Adyan Soeseno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *