Patung Asmat Simbol Kepercayaan Leluhur

Jakarta – Kepercayaan yang dianut Suku Asmat disimbolkan dalam bentuk patung serta ukiran. Patung Asmat merupakan wujud dari dimensi kepercayaan dari para leluhur yang diwariskan ke generasi selanjutnya.

Sedikitnya terdapat 25 suku asli di Papua dengan bahasa yang masing-masing berbeda. Suku-suku tersebut antara lain Suku Ansus, Amungme, Asmat, Ayamaru, Mendiami daerah Sorong. Suku Bauzi, Biak, Dani, Empur mendiami daerah Kebar. Suku Amberbaken, Enggros, Fuyu, Hatam mendiami daerah Ransiki. Suku Oransbari, IhaKamoro, Korowai, Mandobo/Wambon, Mee, mendiami daerah pegunungan Paniai, dan masih banyak lagi. Salah satu suku yang paling terkenal adalah Suku Asmat yang memiliki karakter yang berbeda dengan suku lainnya di Papua.

Keunikan Suku Asmat terlihat dari seni ukir yang berbentuk patung mirip sosok manusia yang didesain dengan muatan makna tertentu, yang berhubungan dengan kepercayaan yang mereka anut. Selama bertahun-tahun pembuatan patung ini terus dilanjutkan dari generasi ke generasi  sehingga membentuk keyakinan dan kepercayaan dari nenek moyang mereka yang dipercaya telah memberikan sinergi kehidupan baik di masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang.

Awal mula budaya mengukir di Asmat, lahir dari upacara keagamaan dan ritual yang beraroma spiritual dan magis, dimulai dengan membuat patung yang secara kasar menyerupai sosok manusia untuk dipersembahkan dalam kegiatan upacara adat. Kemudian patung-patung Asmat tersebut diletakkan di tempat terbuka seperti rawa-rawa, tempat ladang dan hutan sagu dan pohon palem yang merupakan sumber makanan utama masyarakat Asmat di Papua. Tujuannya, agar arwah yang telah bersemayam di dalam tubuh payung-patung tersebut, dapat menjaga sumber kehidupan suku Asmat.

Karakter yang terdapat dalam setiap patung Asmat mengandung filosofi, makna, peran dan fungsi yang berbeda-beda. Di mana setiap patung yang tercipta, mampu melambangkan dan menjiwai adanya kehadiran roh nenek moyangnya. Ada patung yang menggambarkan rasa duka, sedih, dan bahagia.

Kekuatan lain yang terdapat pada patung Asmat adalah selalu menggambarkan dimensi kehidupan alam lain yang ada di dunia, berdasarkan penjiwaan dan keyakinan dari si pemahat. Keyakinan inilah yang menjadi pegangan hidup generasi Suku Asmat dimasa kini, untuk mengenang nilai-nilai perjuangan hidup para arwah leluhur mereka.

Patung Asmat, di masa kini bagi suku Asmat merupakan media sebagai jembatan alur komunikasi, antara roh roh arwah leluhur dengan generasi suku Asmat yang masih hidup. Dimana kaum muda suku Asmat diberikan kepercayaan untuk melestarikan nilai-nilai, hukum, adat istiadat para leluhur agar tidak punah tergerus perkembangan zaman.

Patung Asmat dikenal oleh masyarakat modern sebagi benda primitif, yang dianggap sebagai wujud kepercayaan terhadap arwah-arwah jahat. Namun tidak dapat dipandang sebelah mata, karena hasil kerajinan pulau Papua ini menjai produk seni yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi setara dengan barang-barang kesenian tangan yang memiliki peradaban budaya yang memahami unsur magis.

Keelokan, keunikan dan filosofi yang terkandung dalam patung Asmat menjadi daya pikat tersendiri bagi pecinta seni patung untuk dikoleksi sebagai benda bernilai ekonomis yang tinggi. Dengan nilai historisnya yang kaya makna budaya asli Suku Asmat, patung Asmat memiliki nilai tambah yang belum tentu dimiliki oleh patung-patung modern. (Agus Sukmadi)

 

Inacraftmagz/Ade Fitri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *