Profesor Rahardi Ramelan: Melestarikan Motif Batik Dengan Warna Alami

Jakarta – Kehadiran batik tidak  terlepas dari kebiasaan di zaman feodal dengan berbagai simbol-simbol dalam kehidupannya. Kemudian, batik meluas dan memasuki kehidupan masyarakat, sehingga bagi generasi berikutnya menjadi bagian dari warisan tradisional dan merupakan keharusan memiliki atau memakainya. Kini, batik pun menjadi hasil karya seni budaya. Demikian yang dikatakan Profesor Rahardi Ramelan, Dewan Pakar Yayasan Batik Indonesia sekaligus mantan Menteri Perindustrian mengenai perkembangan batik di Indonesia.

Pria kelahiran Sukabumi, 12 September 1939 ini mengatakan, belum adanya kesepakatan mengenai definisi batik menjadi salah satu penyebab produk batik Indonesia kerap diklaim negara lain. “Masa depan batik akan sangat ditentukan dengan pendekatan branding dan pengamanan hak ciptanya, kalu ingin bertahan di dunia global,” paparnya.

Rahardi mengatakan belum adanya kesepakatan mengenai definisi batik menjadi salah satu penyebab produk batik Indonesia kerap diklaim negara lain. Maka, untuk menghadapi negara yang mengklaim batik sebagai produk buatannya, Indonesia perlu mengembalikan terlebih dahulu definisi tentang batik. Sebab, yang diklaim negara lain terhadap batik sebenarnya produk tekstil yang bermotif seperti batik.

Penobatan Yogya Kota Batik dunia tentunya tidak sembarangan. Ketua Dewan Pakar Yayasan Batik Indonesia Prof Rahardi Ramelan mengatakan, Yogya sebagai kota kerajaan layak menjadi pusat perbatikan sedunia. Meski dari segi ekonomi, industri batik Yogya tidak sepesat kota-kota industri batik lainnya, namun perbatikan Yogya punya kekuatan dari segi lainnya.

Artinya, Yogya harus lebih dari sekadar giat berkarya kain dan busana batik yang bagus, namun juga mengandung dan mengedepankan nilai-nilai luhur dari proses penciptaannya, motif dan ornamen simbolisnya, pemakaiannya sebagai adibusana. Termasuk penggunaannya sebagai media pewarisan ajaran luhur.

Profesor dari ITS Surabaya ini juga tengah aktif dalam mensosialisasikan penggunaan warna alami khususnya untuk tekstil dan serat kepada para pelaku industri kreatif. Penggunaan warna pada tekstil tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsumen untuk membeli ragam produk yang dihasilkan produsennya. Maka, Rahardi Ramelan membentuk organisasi Warlami (Gerakan Warna Alam Indonesia) sebagi wujud kecintaanya pada potensi alam Indonesia.

Rahardi Ramelan, yang merupakan Penasehat Warlami yang menyampaikan bagaimana tren produk hijau di tingkat global. Dalam pandangan Rahardi Ramelan, Warlami merupakan perkumpulan yang paling mendekati kriteria untuk mengeluarkan ecolabeling. Misi ke depan, Warlami bisa menjadi satu-satunya lembaga yang bisa mengeluarkan ecolabeling untuk bahan pewarna alami.

Menyinggung mengenai hak cipta, kebiasaan kapitalisme dengan adanya berbagai macam hak cipta, menurutnya, mengurung kreasi cipta yang dimiliki manusia. “Namun bilamana kita dalam perkumpulan ini saling berbagi ilmu antara peneliti dengan peneliti lain maupun dengan produsen dan lain sebagainya sehingga dapat meningkatkan daya cipta serta nilai tambah pada produk kita bersama,” ujar Rahardi.

Rahardi juga mengingatkan, agar perjain tetap menjaga proses pembuatan kerajinan terutama batik agar tetap dengan cara-cara yang tidak meninggalkan ketradisionalannya. Melalui cara ini batik pewarna alami akan tetap menguatkan posisinya sebagai warisan budaya dunia milik bangsa Indonesia. (Achmad Ichsan dan Agus Sukmadi)

 

Inacraftmagz/Ade Fitri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *