Astra Merintis Desa Wisata Budaya di Gunungkidul

PT Astra International Tbk melalui Yayasan Pendidikan Astra–Michael D. Ruslim (YPA-MDR) menjadi penggagas utama untuk merintis sebuah desa wisata budaya berkolaborasi dengan paguyuban komite sekolah dan masyarakat yang ada di Desa Tegalrejo.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengkubuwono X beberapa waktu lalu telah meresmikan Desa Tegalrejo, Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul sebagai Desa Wisata Budaya dalam acara Pesona Gedangsari. “Kecamatan Gedangsari di Gunungkidul ini akan menjadi model pusat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat melalui potensi desa wisata yang dipadukan dengan budaya,” ujar Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Sri Sultan Hamengkubuwono X menjelaskan, langkah-langkau utama dalam membentuk dan merintis Desa Wisata Budaya pemerintah tidak bisa bergerak sendiri, tentunya membutuhkan bantuan dari berbagai pihak meliputi dunia usaha dan masyarakat. “Seluruh lapisan masrakat di Gedangsari harus berperan aktif dalam program pengembangan desa wisata ini,” tuturnya.

Bupati Gunungkidul, Badingah juga mengucapkan terima kasih kepada Astra selaku penggagas untuk merintis desa wisata budaya di Kecamatan Gedangsari ini, “Untuk merintis Desa Wisata Budaya, pemerintah tidak bisa bergerak sendiri, tentunya kami membutuhkan bantuan dari berbagai pihak meliputi dunia usaha dan masyarakat demi memajukan Kabupaten Gunungkidul,” ujarnya.

Peluncuran rintisan desa wisata budaya yang bertempat di Desa Tegalrejo ini, diharapkan dapat menjadi wilayah destinasi wisata baru dengan segala potensinya. Potensi tersebut ditampilkan dengan adanya kampung batik, parade seni dan budaya Gedangsari, serta pameran kearifan lokal kerajinan produk dan makanan olahan khas Gedangsari, yang bertujuan untuk memperlihatkan potensi-potensi yang ada selain batik. Dimana seluruh potensi tersebut juga memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan ke depan.

Sebagaimana diketahui, di Kabupaten Gunungkidul, dusun-dusun di Gedangsari memiliki para pembatik yang sangat berkembang dan para pembatiknya telah mendapat sertifikasi oleh Disnaker Yogyakarta, bahkan Kecamatan Gedangsari memiliki motif batik khas yang telah dipatenkan.

Kehadiran Kampung Batik dalam rangkaian acara Pesona Gedangsari sangat pas, mengingat banyaknya karya siswa binaan SD hingga SMKN, serta para UKM Batik Gedangsari yang sudah berkiprah dalam berbagai pameran, promosi, dan penjualan di tingkat daerah hingga taraf internasional.

Ketua Pengurus YPA-MDR, Arietta Adrianti mengatakan, pembentukan desa wisata budaya ini merupakan wujud konkrit kepedulian Astra melalui YPA-MDR di Kabupaten Gunungkidul sejak 10 tahun yang lalu. “Dunia pendidikan mampu berperan dan berkontribusi pada pemberdayaan masyarakat Gedangsari, khususnya Desa Tegalrejo dimana terdapat 6 SDN, 1 SMPN, dan 1 SMKN Binaan Astra menuju ekonomi kerakyatan,” tuturnya.

Menurut Arietta, Astra International melalui Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim sejak 2006 mendukung pendidikan di DIY sebesar Rp48 miliar yang terbagi Rp39 miliar untuk Gunung Kidul dan Rp9 miliar untuk Bantul. “Dukungan senilai Rp48 miliar tersebut dalam bentuk pembangunan fisik, pembinaan, pelatihan, bantuan donasi, sarana dan prasana untuk pendidikan atau Astra Untuk Indonesia Cerdas,” terangnya.

Sebagaiman diketahui, YPA-MDR) secara khusus didirikan oleh PT Astra International Tbk untuk melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat di bidang pendidikan di daerah prasejahtera.

Sesuai dengan butir pertama filosofi Astra, Catur Dharma, yaitu Menjadi Milik yang bermanfaat bagi Bangsa dan Negara. YPA-MDR memiliki visi untuk menjadi lembaga sosial yang terkemuka dan kredibel di bidang pendidikan, khususnya di daerah agar seluruh elemen pendidikan mampu meningkatkan kualitas dari segi akademik, intelektual dan kompetensi kecakapan hidup, seni budaya serta memiliki karakter yang didasarkan pada nilai luhur Bangsa Indonesia yang majemuk sebagai bagian dari Sistem Pendidikan Nasional.

YPA-MDR berperan aktif sebagai agent of change dan agent of development dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah dengan membantu pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas, pengembangan kurikulum dan manajemen sekolah serta penyediaan sarana prasarana sekolah sesuai Standar Mutu Pendidikan Nasional.

Dalam acara pesona Gedangsari, YPA-MDR juga melakukan Gerakan Penanaman Pohon Zat Pewarna Alam oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X, Arietta Adrianti, Badingah, Head of Environment, Social & Responsibility PT Astra International Tbk Riza Deliansyah, Lions Clubs, FIF, dan Camat Gedangsari dan diakhiri dengan kunjungan ke Laboratorium Zat Pewarna Alam SMKN 2 Gedangsari.

Head of Environment, Social & Responsibility PT Astra International Tbk, Riza Deliansyah mengharapkan, di masa depan, desa wisata budaya yang terletak di Desa Tegalrejo ini, akan menjadi wilayah destinasi wisata baru dengan segala potensinya. Dimana seluruh potensi tersebut juga memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan sebagai material utama untuk kesejahteraan masyarakat sekitarnya. “Inilah keselarasan dan komitmen Astra dalam program CSR pendidikan melalui YPA-MDR di semua area binaan di Indonesia,” imbunya.

Dalam acara Pesona Gedangsari ini, juga diserahkan dua Piagam Pemecahan Rekor MURI untuk Membatik Lintas Generasi/ Usia Pertama di dunia dan Pagelaran Busana Pertama di Wanajati yang pertama di Indonesia. Piagam tersebut oleh Museum MURI diserahkan kepada YPA-MDR, Bupati Gunungkidul Badingah, serta Indonesia Fashion Chamber (IFC) dan disaksikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Pemecahan Rekor MURI Membatik Lintas Generasi/ Usia pertama di dunia ini didukung oleh para pembatik mulai usia PAUD, SD, SMP, SMA/SMK, hingga para pembatik usia lanjut, dengan rentang usia mulai 5 tahun sampai dengan usia diatas 70 tahun yang semuanya berjumlah sekitar 130 orang.

Hal tersebut, selaras dengan komitmen Astra dalam program CSR pendidikan melalui YPA-MDR di semua area binaan di Indonesia adalah sekolah dengan konsep Sekolah Eskalator, yakni sekolah dengan pola pembinaan dan pendampingan yang berjenjang dan berkelanjutan yang dapat berdampak pada pemberdayaan masyarakat menuju kesejahteraan masyarakat sekitarnya.

Pada acara tersebut, juga dilaksanakan fashion show dengan tema “Pagelaran Busana Pertama di Wanajati”. Fashion show di alam bebas Gendangsari ini, memperlihatkan keunggulan batik yang ada di Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, dengan menghadirkan karya berbagai desainer Indonesia Fashion Chamber (IFC), seperti Lia Mustafa, Dany Paraswati, Phillip Iswardono, Ratih Kristiani, Amin Hendra, dan Dandy T. Hidayat yang berkolaborasi dengan hasil karya kain batik dari siswa SMKN 2 Gedangsari.

Masyarakat yang hadir sangat terhibur dengan penampilan Parade Seni dan Budaya Gedangsari seperti Wayang Kulit dan Reog Jatilan, pameran kearifan lokal kerajinan produk seperti kerajinan akar bambu dan Kampung Batik, serta makanan olahan seperti makanan berbahan Garut/Kairut, Pisang, Singkong, dan lain-lain. (Achmad Ichsan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *