Hidupkan Kembali “Nadi yang Hampir Mati”

MKN 2 Gedangsari Gunungkidul merupakan salah satu sekolah binaan Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR) yang terletak di Kecamatan Gedangsari, Gunung Kidul, Yogyakarta. Sekolah ini memfokuskan para siswa untuk bisa menjadi perajin batik profesional.

Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul, dikenal sebagai salah satu sentra industri batik di Daerah Istimewa Yogyakarta (Yogyakarta). Mayoritas penduduk di sana berprofesi sebagai perajin batik. Bahkan, Kecamatan Gedangsari memiliki motif batik khas yang telah dipatenkan dan para pembatik pun telah mendapatkan sertifikasi oleh Dinas Tenaga Kerja Yogyakarta.

Lurah Tegalrejo Sugiman mengatakan, dulu 80% mayoritas masyarakat di Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, merupakan perajin batik. “Mereka sudah menjadi perajin batik secara turun-temurun,” paparnya.

Namun seiring berjalannya waktu, lanjutnya, perajin batik di Gedangsari semakin lama semakin berkurang. Daerah tersebut berada di perbatasan Yogyakarta dan jauh dari pusat kota, sehingga sulitnya transportasi menyebabkan mereka tidak bisa membawa kain batik ke pasar.

“Akhirnya, banyak perajin batik yang gulung tikar dan memilih pindah ke kota atau bekerja di sektor lain. Akibatnya, tidak ada generasi muda yang melanjutkan untuk menjadi perajin batik,” tutur Sugiman.

Perlahan-lahan, perajin batik di Gedangsari pun sudah mulai bekurang. Selain mereka sudah tua dan tidak bisa lagi membuat batik, juga tidak ada penerusnya. Anak-anak muda lebih memilih bekerja di kota daripada menjadi perajin batik. Dengan begitu, kerajinan batik di Kecamatan Gedangsari bisa dikatakan sudah mati suri.

Putusnya generasi pembatik dan kemungkinan hilangnya sentra batik di Gedangsari mendorong Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Yogyakarta ingin menjadikan SMKN 2 Gedangsari sebagai kawah candradimuka bagi para pembatik generasi baru. Untuk itu, pemerintahan daerah Yogyakarta kemudian menggandeng YPA-MDR untuk membuat terobosan pembinaan dan pembangunan gedung baru guna mewadahi para siswa agar terampil membatik.

Astra melalui YPA-MDR selanjutnya membangun gedung baru SMKN 2 Gedangsari untuk program keahlian busana butik dan mengasah keterampilan membatik para siswa, mulai dari membuat, mendesain, hingga memasarkan batik.

Ketua Pengurus YPA-MDR Arietta Adrianti menjelaskan, pendampingan pendidikan yang diberikan YPA-MDR di Gedangsari merupakan wujud komitmen Astra untuk meningkatkan mutu pendidikan masyarakat di Indonesia.

Selain itu, tambahnya, alasan YPA-MDR memilih mengembangkan batik di SMKN 2 Gedangsari karena sesuai dengan potensi lokal daerah itu. “PT Astra International Tbk melalui YPA-MDR tertarik untuk turut serta membantu masyarakat di Tegalrejo melalui pembinaan penciptaan motif batik bagi siswa SMK 2 Gedangsari, karena melihat potensi yang dimiliki masyarakat di sana bisa dikembangkan lebih baik lagi,” papar Arietta.

Arietta menjelaskan, perintisan Kecamatan Gedangsari sebagai sentra batik dilakukan sejak 2007. Hingga saat ini, lanjutnya, yayasan YPA-MDR telah memberikan pembinaan membatik bagi 6 SD, 1 SMP, dan 1 SMK di kecamatan itu. “Kami berupaya menyiapkan SDM yang mampu menciptakan perekonomian kreatif dengan menjadikan Gedangsari sebagai sentra industri sesuai dengan potensi unggulan daerah,” terang Arietta.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 2 Gedangsari, Suminta, menyambut baik keinginan Astra untuk membantu membina siswa SMKN 2 Gedangsari menjadi perajin batik. “Kami berharap, setelah lulus, para siswa dapat menjadi pengusaha atau praktisi fashion yang dapat memberikan konstribusi besar bagi daerah mereka,” ucapnya.

Kini, SMKN 2 Gedangsari Gunungkidul merupakan salah satu sekolah binaan YPA-MDR di Kecamatan Gedangsari, Gunung Kidul, Yogyakarta, yang memfokuskan para siswa untuk bisa menjadi perajin batik profesional.

Sementara itu, Sekretaris YPA-MDR Kristanto menjelaskan, konsep pembinaan Sekolah Binaan Astra meliputi empat pilar, yaitu Akademik, Karakter, Kecakapan Hidup, dan Seni Budaya. “Melalui pembinaan empat pilar ini, Astra membentuk sekolah binaan di Desa Tegalrejo mencapai Sekolah Swapraja (mandiri) menuju Sekolah Unggulan,” ujarnya.

Menurut Kristanto, pencapaian sekolah unggul ini bisa dicapai melalui konsep sinergi pemangku kepentingan antara Dinas Pendidikan setempat dan perangkatnya, komite sekolah (masyarakat), elemen pendidikan sekolah, dan lain-lain. “Melalui pendidikan, Astra menerapkan Teaching Factory atau TeFa kepada siswa lulusan SMKN 2 Gedangsari selama satu tahun untuk dipersiapkan menjadi wirausaha dan mendorong masyarakat. Hal ini sesuai dengan konsep Astra sebagai Sekolah Eskalator,” ucapnya.

Sekolah tersebut mengembangkan pelajaran membatik menjadi unggulan pada jurusan tata busana. Para guru mengajari mulai membuat batik, mendesain baju batik, hingga memasarkan hasilnya. Santi, salah satu siswi SMK 2, mengaku, sangat senang dengan adanya kurikulum membatik yang diberikan Astra di sekolahnya. “Kami diajarkan cara membuat motif batik yang bagus, memberikan pewarnaan, sampai mendesainnya,” imbuhnya.

Berbagai karya motif batik mampu dimunculkan para siswa SMKN 2 binaan Astra, seperti motif Campursari Gedangsari, Line Srikaya, Mix Bamboes Sweet, Gedang Belukar, Ratu Gedangsari, serta Pring Seling Srikoyo. Motif batik yang mereka buat diambil dari potensi alam di Gedangsari yang dituangkan ke dalam sebuah batik untuk fashion. Gaya motif mengedepankan unsur kontemporer dari corak ragam batik Gedangsari.

Perbedaan batik yang dibuat di SMK Gedangsari dengan batik lainnya ialah keunikannya yang tidak dimiliki batik dari daerah lain. Para siswa diajarkan mendesain serta membuat batik karena di sekolah ini memang terdapat kurikulum khusus batik, dan ini merupakan satu-satunya serta tidak ada di sekolah lain.

Teaching Program YPA-MDR di Yogyakarta, Tohti Murtiningrum, mengatakan, perintisan SMK 2 Gedangsari Kecamatan Gedangsari sebagai sentra batik sudah dilakukan sejak 2007 lalu. “Kami berharap mereka dapat menjadi pengusaha atau praktisi fashion yang dapat memberikan kontribusi besar bagi daerahnya,” ucap Tohti.

Hingga saat ini, lanjut Tohti, YPA-MDR telah memberikan pembinaan membatik bagi siswa kelas 6 SD, 1 SMP, dan 1 SMK di Kecamatan Gedangsari. “Kami berupaya menyiapkan SDM yang mampu menciptakan perekonomian kreatif dengan menjadikan Gedangsari sebagai daerah sentra industri sesuai dengan potensi unggulan daerah,” ucap Tohti.

Selain memberikan pembinaan terhadap siswa, menurut Tohti, YPA-MDR juga berencana akan membuat laboratorium pewarnaan alami di kecamatan itu. Masyarakat juga akan digalakkan untuk menanam pohon sebagai sumber zat warna alam batik. “Jadi, bahan baku mulai dari hulu hingga hilir untuk pembuatan batik semuanya benar-benar ada di Gedangsari sendiri,” ujarnya.

Dengan adanya batik khas Gedangsari, diharapkan ada dampak ekonomi positif di daerah yang masih prasejahtera tersebut. “Kami melihat Gedangsari memiliki potensi batik, dan inilah yang ingin kita kembangkan. Batik Gedangsari diharapkan semakin dikenal luas dan secara tak langsung juga meregenerasi pembatik di Yogyakarta,” pungkas Tohti. (Achmad Ichsan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *