Pameran Seni Rupa Koleksi Nasional: MENYIGI MASA

IMG_6056

Pameran Seni Rupa Koleksi Nasional merupakan salah satu program pameran utama yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Galeri Nasional Indonesia, Direktorat Jenderal Kebudayaan,Kementerian Pendidikan dan Kebudayan.

Pameran ini menampilkan karya-karya koleksi negara hasil olah artitisk para perupa Indonesia yang dikelola dan dikoleksi oleh lembaga/instansi yang berada di seluruh wilayah Indonesia. Gelaran ini diselenggarakan dengan tujuan untuk mempublikasikan karya-karya koleksi negara dan menunjukkan kekayaan dan khazanah budaya bangsa khususnya melalui karya rupa. Selain itu juga memberikan kesempatan bagi masyrakat untuk dapat mengapresiasi, mendapatkan infomrasi/pengetahuan tentang karya-karya koleksi negara, serta mengenal lebih dekat tokoh-tokoh penting dalam perkembangan sejarah seni rupa Indonesia. Hal tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap seni rupa Indonesia sekaligus membangun kesadaran tentang pentingnya karya-karya koleksi negara beserta para perupa sebagai kreatornya yang merupakan bagian penting dalam proses perkembangan dan pembangunan negara.

Tahun 2018, Pameran Seni Rupa Karya Koleksi Nasional merupakan pameran perdana yang melibatkan Museum Aceh, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh; Dewan Kesenian Jakarta; dan Unit Pengelola Museum Kesejarahan Jakarta, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Karya-karya yang ditampilkan merupakan karya-karya koleksi keempat lembaga/isntansi tersebut yang telah menjadi koleksi negara. Karya-karya tersebut disajikan dan dikemas dalam tajuk “Menyigi Masa”.

Diungkap Kurator Suwarno Wisetrotomo, pameran “Menyigi Masa” merupakan upaya sangat awal untuk menyigi- menginvestigasi, mencatat, menyiangi, dan menerangjelaskan-karya-karya yang terhimpun (terkoleksi) dalam berbagai insitusi negara, yang bisa dicatat sebagai Karya Seni Rupa Koleksi Negara (state collection).

Terkait dengan ‘kesaksian seniman terhadap gerak zaman’, dan karya-karya sebagai fakta benda, fakta mental, dan fakta sosial, maka antara karya yang satu dengan karya yang lainnya memiliki pertautan sejarah. Setiap karya merupakan sepihan puzzle sejarah yang perlu dicarikan pasangan rangkaiannya. Aspek lainnya yang juga penting adalah narasi tentang sejarah pengoleksian, relasi dengan pariwisata tertentu, perkembangan, gaya, dan lainnya, sebagai upaya memaknai setiap karya dengan koenteks zamannya.

Melalui karya-karya koleksi institusi negara-dengan sendirinya menjadi koleksi negara-berpeluang untuk melengkapi sejarah Indonesia melalui karya-karya seni rupa. Dengan demikian maka akan membicarakan pula peran-peran seniman (perupa) dalam konteks berjuang dan menjadi Indonesia, serta segala hal yang terkait dengan ke-Indonesia0an.

“Aspek peran dan makna seniman beserta karya seninya-dalam konteks Indonesia dan ke-Indonesia-an- itulah yang saya maksud sebagai mata rantai yang hilang. Pameran ini berupaya melancak, mengivestigasi, dan menyiangi artefak-artefaknya- yang tangible dan yang intangible-agar bisa menandai sebagai mata rantai yang lepas, untuk kemudian menyambungkannya,” tegas Suwarno.

Ditambahkan Rizki A. Zaelani yang juga Kurator pameran ini, “Menyigi Masa” hendak menggarisbawahi dua maksud penting memulai penjelajahan apresiatif yang bisa kita lakukan bersama. Istilah ‘menyingi’ menjelaskan soal laku meneliti secara teliti, menerangi (sehingga menjadi jelas), bahkan mengorek untuk mempereoleh penjelasan yang bermanfaat, ihwal soal yang berda di balik karya maupun proses kreasi yang melatarbelakangi penciptaan sebuah karya, bahkan juga mengenai kisah tentang keberadaan sebuah karya hingga masa kini. Persoalan ‘masa’ inilah yang memiliki wilayah pemaknaan yang luas dan meluas. Tentang ‘masa’, yang berkaitan dengan persoalan waktu, adalah bilah persoalan dengan banyak segi makna-maknanya.

Secara umum, karya-karya yang dipamerkan ini menunjukan tiga kerangka pemahan tentang persoalan masa (waktu), yaitu : (a) makna waktu dalam kenangan peristiwa sejarah; (b) makna waktu dalam kerangka pengalaman subjektif mengenai realitas dan lingkungan alam maupun kejadian-kejadian hidup; serta (c) makna waktu dalam penciptaan karya-karya yang diilhami oleh ajaran nilai yang bersumber dari agama, mitologi, dan trasdisi budaya.

“Pameran Seni Rupa Koleksi Nasional ‘Menyigi Masa’ pada dasarnya henda menyiangi makna-makna penting mengenai pengalaman hidup kita secara kolektif sebagai sebuah bangsa melalui titik-titik penting proses dan hasil penciptaan karya seni rupa dalam wawasan pemikiran maupun perasaan para seniman Indonesia,” kata Rizki.

Sebagai penajaman wacana, pameran dilengkapi dengan Diskusi Seni Rupa bertema “Karya Seni Rupa Koleksi Negara Terbarukan’. Diskusi ini menghadirkan narasumber Rizki A. Zaelani (Kurator Pameran Seni Rupa Koleksi Nasional “Menyigi Masa” dan Irawan Kareseno (ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta). Sedangkan sebagai moderator adalah Yusuf Susilo Hartono (Wartawan Seni). Diskusi ini menghadirkan para peserta dari lembaga-lembaga/isntansi yang terlibat langsung dalam pengelolaan koleksi karya seni rupa.

Dengan menyaksikan karya koleksi nasional dalam pameran ini, Pustanto berharap Galeri Nasional Indonesia dapat menjadi fasilitator dalam memperkenalkan kembali karya-karya seni rupa koleksi nasional kepada publik luas, sehingga publik memiliki kesempatan untuk mengapresiasi karya-karya seni rupa Indonesia yang disajikan secara artistik. Selain itu juga diharapkan masyrakat dapat menggali informasi dan memperoleh pengetahuan, baik tentang kekaryaan maupun profil para perupa Indonesia. Lebih lanjut gelaran ini diharapkan dapat memberikan inspirasi, motivasi, dan menggungah masyarakat untuk terus bereksplorasi dan turut mengembangkan seni rupa Indonesia.**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *